LES PRIVAT SURABAYA | 085706454663 LES PRIVAT SURABAYA | 081230238023 LES PRIVAT SURABAYA LES PRIVAT SURABAYA | 081703335330

Senin, 18 November 2013

Materi Biologi Kelas XI Bab 2

Kultur Jaringan Tumbuhan

A. Pengertian Kultur Jaringan


Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.

Maka, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya
Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

B.     Tahap Kultur Jaringan


      a.      Pembuatan Media
                  Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Menyiapkan media tumbuh yang terdiri atas campuran garam mineral berisi unsur makro dan mikro asam amino, vitamin, gula serta hormon tumbuhan dengan perban dingan tertentu. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan  autoklaf.
      b.      Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas

      c.      Sterilisasi
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril
Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.  Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
    
      d.      Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow  untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan .
Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.
      e.      Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap.
C.     Contoh Tanaman


A.        Kultur Jaringan Pisang
Pada umumnya pisang diperbanyak dengan anakan dan Bid (potongan bonggol). Namun akhir-akhir ini pisang telah dapat diperbanyak melalui teknik kultur jaringan. Keuntungan perbanyakan bibit pisang melalui kultur jaringan antara lain bibit yang dihasilkan seragam, bibit bebas hama dan penyakit, dapat dihasilkan jumlah banyak dalam waktu lebih singkat, tanaman asal kultur jaringan berbuah lebih awal pengiriman bibit lebih muda, dapat dikirim jarak jauh dengan volume yang relatif kecil.
B.        Proses Pembuatan Bibit
Pengambilan eksplan (bahan tanam). Eksplan diambil dari kebun induk yang telah diketahui jenisnya. Syarat sebagai tanaman induk adalah produksi tinggi dengan telah diketahui buahnya, tanaman sehat atau tidak terserang hama/penyakit. Sehingga tanaman pisang dapat mengasilkan produksi yang optimal. Pengambilan eksplan dapat dilakukan dengan anakan diambil/dipisahkan dari induknya yang mengikuti sertakan bonggolnya. Setelah diambil, kemudian dipotong dan dibawa kelaboratorium. Eksplan dipotong kemudian dikupas dan disisakan di sekitar titik tumbuh sebesar ibu jari, potongan eksplan dicuci sampai bersih, direndam dalam larutan sterilan, dibilas dengan akuades, lalu ditanam dalam media kultur.
Untuk memperbanyak bibit dapat dilakukan dengan proses perbanyakan bibit di laboratorium yang meliputi, induksi yaitu proses merangsang tumbuhnya tunas dari eksplan, reproduksi yaitu proses perbanyakan dari tunas yang terbentuk pada proses induksi dan pengakaran yaitu proses untuk menumbuhkan akar dari tunas hasil reproduksi Melalui ketiga proses tersebut akhirnya dihasilkan bibit kecil (planlet berukuran tinggi 5 cm). Proses induksi. Reproduksi, dan pengakaran dikerjakan di ruang steril dengan media padat dan cair.
C.       Proses Penyesuaian Dengan Lingkungan
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian dengan lingkungan baru di luar laboratorium. Caranya sebagai berikut, siapkan bedengan dibawah naungan dengan intensitas penyinaran 30 %, media tanam terdiri dari campuran tanah, pasir, pupuk kandang halus (1:1:1). Taburkan furadan 3 G 20 g/m2 Kemudian disiram sampai basah. Planlet ditanam dengan jarak 4 x 5 cm. Setelah itu disiram dan dipupuk dengan pupuk daun Gandasil D (konsentrasi 1,5 g/liter air). Bedengan disungkup dengan lembaran plastik tembus cahaya. Penyiraman dilakukan setiap hari. Penyegahan hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan Decis 1,5 ml/l dan Benlate 1 g/l setiap 5 hari sekali. Pemupukan menggunakan Gandasil D diberikan bersamaan dengan pengendalian hama dan penyakit lamanya aklimatisasi berkisar 20 - 45 hari tergantung besar kecilnya planlet.
D.       Pembibitan
Bibit yang telah berukuran tinggi 10 cm siap dipindahkan ke polibag. Untuk pembibitan dapat digunakan polibag ukuran 12 x 18 cm dengan media campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir (1:1:1). Bibit dalam polibag disusun dibawah naungan dengan intensitas penyinaran 40-50%. Pemeliharaan bibit meliputi menyiram, memupuk, menyiang, dan mengendalikan hama dan penyakit pemupukan berupa larutan urea 0,1 % (1gr/liter) diberikan setiap 5 hari sekali. Bibit siap ditanam apabila telah mencapai tinggi 15-20 cm dengan jumlah daun 5 helai.
E.        Pengiriman Bibit
Bibit asal kultur jaringan dapat dikirimkan (dibeli) dalam bentuk : Planlet (pra aklimatisasi), bibit pasca aklimatisasi, dan bibit siap tanam. Untuk pengiriman jarak jauh (antar pulau) dianjurkan berupa planlet karena tahan selama 1 minggu. Pengiriman bibit berupa planlet dikemas dalam kotak plastik masing-masing berisi 200 bibit dengan berat 250 gr tiap kemasan. 
F.        Penanaman dan Pemeliharaan
Penanaman dan pemeliharaan tanaman pisang asal kultur jaringan dapat dilakukan sesuai dengan petunjuk budidaya pisang yang ada (dapat diperoleh di toko-toko buku). Karena bibit asal kultur jaringan relatif kecil. Maka pemeliharaan pada tahap awal perlu lebih intensip. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada budidaya pisang asal kultur jaringan adalah : Anakan baru dipelihara setelah tanaman induk berumur 5 dan 10 bulan (masing-masing dipelihara 1). Dengan demikian jumlah pohon per rumpun maksimal 3 dengan umur berbeda. Tanaman dipelihara sampai 3 kali berbuah setelah itu sebaiknya dibongkar dan ditanam ulang. Bibit pisang asal kultur jaringan dijamin bebas hama dan penyakit, tetapi tetap diperlukan pencegahan dan pengendalian apabila terjadi serangan di kebun. (berbagai sumber)
G.       Keunggulan Dari Kultur Jaringan
Bibit hasil kultur jaringan memiliki keunggulan antara lain:
Ø Penyediaan bibit dapat diprogram sesuai dengan jadwal kebutuhan dan jumlah yang diperlukan pekebun.
Ø Sifat unggul tanaman induk tetap dimiliki oleh tanaman hasil perbanyakan dengan kultur jaringan.
Ø Bibit dalam keadaan bebas hama dan penyakit karena diperbanyak dalam keadaan aseptik dari tanaman yang sehat.
Ø Tingkat keseragaman bahan tanaman yang tinggi, sehingga mampu meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan kebun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar