Jumat, 05 September 2014

Anda seorang yg sukar untuk menangis… bacalah kisah ini…


 LES PRIVAT SURABAYA I LBB PRIVAT SURABAYA I BIMBEL SURABAYA I GURU LES PRIVAT SURABAYA I BIMBINGAN BELAJAR SURABAYA
Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Memaksa Diri untuk Menangis karena AllahJika dengan cara-cara di atas (baca tulisan; Agar Bisa Merasakan Sensasi Menangis Karena Allah), hati tetap tidak bisa lunak dan tidak menangis karena Allah, maka cara terakhir adalah dengan memaksa diri untuk menangis atau berpura-pura untuk menangis. Hal ini bertujuan untuk memancing hati agar terbawa suasana.Dari Abu Mulaikah, kami duduk di samping Abdullah bin Amr ra di sebuah sisi masjid, maka dia berkata, Menangislah kalian. Jika kalian tidak bisa menangis, maka paksalah menangis. Jika kalian tahu, kalian akan shalat hingga punggung kalian patah dan akan menangis hingga putus suaranya. (HR. Hakim dishahihkan Al-Albani)
Ibnu Qayyim Al-Jauzi berkata setelah menyebutkan macam-macam menangis, Pura-pura menangis ada dua; terpuji dan tercela. Terpuji jika mampu melahirkan kelembutan hati dan takut kepada Alah, bukan untuk riya dan sumah. Sementara yang tercela adalah jika dilakukan untuk makhluk.
Umar bin Khattab berkata kepada Nabi yang sedang menangis bersama Abu Bakar dalam urusan tawanan perang Badar, Kabarkan kepadaku apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah? Jika aku bisa menangis aku akan menangis dan jika tidak aku akan paksa menangis karena tangisan kalian berdua. (HR. Muslim).
Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam bersabda, Al-Quran ini diturunkan dengan kesedihan, maka bacalah dengan menangis. Jika tidak bisa, paksalah untuk menangis. (HR. Ibnu Majah, Albani mengatakan hadits ini dlaif) (Ahmad Tarmudli)
http://spiritislam.net/index.php/2012/06/19/memaksa-diri-untuk-menangis-karena-allah/
http://hatiorganik.faceblog.com/index.php/2012/11/13/135/
Ajari aku agar bisa menangis karenaMu 
Bismillahirrohmanirrohiim…
Segala puji hnya milik Allah
Robb semesta alam yg
menggenggam jiwa ruh dan
hati manusia, yg nda pernah
henti mberikan nikmat,
syukurku mgkin nda sbanding
dg nikmat dan karuniaNya.
Ya Allah,… aku rindu pd detik2
ketika awal hidayahMu kau
berikan padaku, detik2 yg
mbuat hati ini trenyuh,
terpanggil untk sgera
memenuhi panggilanMu untk
berhijab..
Ya Allah,…bgtu mudhnya aku
dlu menangis kpdMu, bgtu
mudahnya saat itu aku
mnangis krn rindu dgnMu, tp
knpa ya Allah seakan aku sulit
untk mngeluarkan bulir air
mata ini krn rindu dan takut
kpdMu.
Ya Allah,…tolong hambamu yg
Kau butakan hati dan jgn Kau
lenakan diri ini dgn
duniawi…krna sungguh
khdupan akhiratMu lebih
indah dan kekal.
Ya Allah,…bersihkan hati ini dr
noda2 yg mbuat hati ini mjd
karat yg susah untk
dibersihkan.
Allah ya Robb… aku tau btapa
Rasullullah yg begitu mulia
tnpa dosa mudah skali
menangis krna takut kpdMu..
tp aku ya Allah…..aku hnya
hamba yg lemah, rapuh saat
ini nda mudah untk mnangis,
aku sedih ya Allah krn aku
nda bisa menangis.
Menangis Karena Allah
Pernahkah kita berpikir atau bertanya pada diri kita sendiri, mengapa hati kita cenderung tertarik dengan dosa-dosa dan menjauh dari pahala?
Mengapa ketika banyak peringatan yang datang, tidak membuat kita atau hati ini jera berbuat nista? Mengapa hati ini selalu bosan bahkan benci dengan hal-hal yang dicintai oleh Sang Khaliq, Allah ?
Mengapa hati ini senang sekali terbuai dengan kemewahan dunia yang fana dan melupakan kemewahan kampung akhirat yang kekal?
Mengapa hati ini membuat mata menjadi sangat sulit melelehkan air mata?
serta menangis karena-Nya? Di manakah kelembutan hati ini untuk bertaqarrub kepada Allah ?
Lari kemanakah hati ini dari berzikir kepada Allah ?
Apakah yang menyebabkan hati ini gersang dan keruh untuk selalu mengingat Sang Kekasih, Allah
Dan di manakah posisi kita dari orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Dan mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al Isra’: 107-109).
Ketika hati tidak lagi tersentuh oleh lantunan indah ayat-ayat suci Al Qur’an dan lebih cenderung mengonsumsi nyanyian-nyanyian cengeng dan berisi maksiat, maka saat itulah hati menjadi keras membatu dan tak dapat melelehkan air mata di kala mengingat dosa-dosa dan peringatan tentang neraka Allah . Dan di saat itu pulalah, shalat tak lagi terasa nikmat. Munajat tak lagi manis dan hanya jadi aktifitas harian kita sebagaimana aktifitas di kantor, sekolah, kampus, atau lapangan akitifitas lainnya.
Hal ini bisa menimpa siapa saja bila tidak teliti dalam pelaksanaan ibadah kepada Allah , entah itu pada masalah niat ataukah gerakan-gerakan dalam pelaksanaan tersebut. Namun yang paling pokok dalam masalah tersebut adalah pada masalah niat, yang mana isinya adalah keikhlasan yang melahirkan kelembutan hati lalu diiringi dengan tangisan karena Allah semata.
Apa Itu Kelembutan Hati?
Para ahli hadits telah menulis sejumlah karya mereka dengan menggunakan istilah atau lafal ar-riqqah, dan memberikan tempat atau bab khusus tentang hal tersebut dalam buku-buku mereka. Mereka menuliskannya dengan judul, “Kitabur Raqaaiq” atau “ar-Riqaaq”. Dan tokoh mereka dalam hal ini adalah imam seluruh ahli hadits, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukharirahimahullah.
Lafal ar-raqaaiq atau ar-riqaaq merupakan bentuk plural dari kata “raqiiqah”. Hadits-hadits tertentu dikatakan ar-raqaaiq karena di dalam setiap hadits-hadits tersebut terdapat hal yang dapat membuat hati menjadi lembut.
Para ahli bahasa berkata, “Kata ar-riqqah bermakna ar-rahmah (kasih sayang), dan lawan katanya adalah al ghilzhah (kekerasan hati).”
Imam ar-Raghib al Ashfahanirahimahullahberkata, “Apabila sifat ar-riqqah (kelembutan) dipakai untuk perangai jiwa, maka kebalikannya adalah “al qaswah” (keras hati), seperti raqiiqul qalbi dan qaasil qalbi keduanya bermakna “berhati keras”. (Lihat Fathul Bari juz 11 hal. 233).
Buah Kelembutan Hati
Rasulullah bersabda,
“Dan sesungguhnya, di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh jasad itu. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati yang terdidik di atas ketaatan kepada Sang Mahapengasih akan menjadikan pemiliknya bersifat lemah lembut dan sangat mudah menangis. Dan hal itu disebabkan karena permohonannya yang ikhlas kepada Rabb-nya agar memiliki sifat kelembutan hati untuk melelehkan air mata.
Karenanya, ketika alunan ayat-ayat suci Al Qur’an terlintas di pendengaran orang-orang shaleh, mereka lalu meresapinya hingga masuk ke dalam lubuk hati mereka. Maka pada saat itulah hati mereka bereaksi untuk melelehkan air mata. Walaupun yang mereka dengar hanya sepenggal ayat.
Maka di manakah kita dari orang-orang seperti mereka?
Mungkin kita pernah menangis, atau bahkan sering menangis. Tapi itu bukan karena Allah, mungkin karena kehilangan harta, sakit yang diderita, kerabat yang meninggal, atau bisa jadi untuk menarik perhatian manusia, dan sebagainya.
Memang, masalah tangis adalah persoalan yang sangat sulit dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati yang gersang, keruh, dan kotor. Terlebih lagi hati yang telah keras membatu dari peringatan Allah berupa ancaman neraka. Sebagaimana firman Allah ,
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS. Al Baqarah: 74).
Hal ini dapat dijumpai pada orang-orang yang hatinya sedang lalai dari pengawasan Allah .
Masalah ini tidak hanya menimpa orang-orang awam atau orang yang tidak kenal agama ini, tetapi juga bisa menimpa para aktifis dakwah, penuntut ilmu syar’i, bahkan ulama sekalipun, karena tidak mengamalkan ilmu mereka dengan baik. Beribadah hanya karena ingin dikatakan sebagai ahli ibadah, orang alim dan lain sebagainya.
Sebab-sebab Lembutnya Hati
1. Memelihara hati dari penyimpangan dan dosa
Dalam bahasa Arab, hati dinamakan dengan al qalbu, karena sifat dan keadaannya yang senantiasa berubah-ubah. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah ,
“Perumpamaan hati seperti bulu-bulu di tengah tanah lapang yang dihembus angin (hingga beterbangan) (HR. Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al Albani).
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba menempuh jalan menuju Allah dengan hati dan tekad bajanya, dan bukan dengan fisiknya. Hakekat takwa adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan.
Sebab Allah berfirman, artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37). Sedangkan posisi takwa itu adalah di hati. Maka orang yang cerdik adalah orang yang menempuh perjalanan (menuju Allah) dengan bekal tekad yang benar, cita-cita yang tinggi serta membersihkan dan menjernihkan niatnya diikuti amal. Hal itu sangat jauh berbeda dengan perjalanan yang ditempuh oleh orang yang sama sekali tidak membekali dirinya dengan sifat-sifat tersebut meski dibarengi dengan jerih payah dan kerja keras. Melaju menuju Allah adalah tekad bulat, bertujuan yang benar serta keinginan yang membara.
2. Melepas hati dari jerat dunia Manusia senantiasa sibuk dengan kemewahan, hiruk-pikuk, dan permainan dunia. Padahal yang sibuk dengannya adalah hati. Bukan jasmani. Bukan pula segenap anggota badan. Meskipun yang langsung bereaksi dengannya adalah fisik dan anggota badan. Tapi, hatilah yang sebenarnya terjerat, yang senantiasa sibuk dengan kemewahan dunia dan mencintainya.
Orang yang hatinya telah terjerat dan terpenjara oleh nikmatnya dunia, ia merasa seakan tidak diciptakan di dunia ini kecuali untuk menghimpun dan menguasainya. Tidaklah ia dilahirkan kecuali untuk meraih kenikmatannya, baik yang halal maupun yang haram. Sehingga hal itu melenakannya dari kewajiban-kewajibannya dan hak-hak orang lain.
Adapun orang yang meletakkan dunia hanya di tangannya, maka berbahagialah orang yang berbuat demikian. Mereka adalah para pendahulu (salaf) umat ini. Di mana dunia justru dilapangkan kepada mereka dan dihimpunkan bagi mereka, tapi itu semua hanya berada sebatas di tangan mereka. Sebab itu, kehidupan mereka yang zuhud terhadap dunia patut diteladani.
Di antara mereka adalah Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu Anhu, berikut ini adalah kisah teladan beliau:
Suatu ketika beliau sedang menghadapi hidangan untuk berbuka puasa, ia berkata, “Mush’ab bin ‘Umair ketika terbunuh sedang ia lebih baik dariku tak didapati kain kafan yang cukup untuk membalut tubuhnya, kecuali selembar kain burdahnya. Jika ditutupkan di kepalanya, kedua kakinya nampak, dan jika yang ditutup adalah kakinya, maka kepalanya yang terlihat. Sedangkan aku telah dikaruniai dengan harta yang begitu luasnya”, atau ia berkata, “Sedang aku diberi harta dunia yang begitu banyaknya, sehingga aku merasa khawatir, rezki sebanyak itu sengaja didahulukan oleh Allah untukku.” Kemudian ia menangis sesenggukan, lalu meninggalkan makanan itu.Wallahul Haadi Ilaa Sabiilir Rasyaad, Abu Umair Adiningrat al Bahari (Al Fikrah)
Sumber: Kiat Melembutkan Hati dan Menangis karena Allah, oleh Abdul Karim bin Abdul Majid ad-Diwaan
http://wahdah.or.id/buletin-al-fikrah/menangis-karena-allah.html
http://hatiorganik.faceblog.com/index.php/2012/11/13/150/
Agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah ..
Mengapa Hati Membatu?
Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Badai al-Fawaid [3/743], Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah taala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu, sebagaimana terdapat dalam hadits, Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan. (HR. Muslim [2722]).
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahuanhu, dia berkata, Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Apakah keselamatan itu?. Maka Nabi menjawab, Tahanlah lisanmu, hendaknya rumah terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu. (HR. Tirmidzi [2406], dia mengatakan; hadits hasan. Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib [2741]).Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah mengatakan [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256], Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.Di antara sebab kerasnya hati adalah :
* Berlebihan dalam berbicara
* Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban
* Terlalu banyak tertawa
* Terlalu banyak makan
* Banyak berbuat dosa
* Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya
Agar hati yang keras menjadi lembutDisebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, Wahai Abu Said! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku. Maka Beliau menjawab, Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :
* Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
* Membaca al-Quran dan merenungi kandungan maknanya
* Banyak berdzikir kepada Allah
* Memperbanyak ketaatan
* Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah orang
* Mengkonsumsi makanan yang halal
* Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat
* Sering mendengarkan nasehat
* Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah
* Meneteskan air mata ketika berziarah kubur
* Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka
* Berdoa
* Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri
[diringkas dari al-Buka' min Khas-yatillah, hal. 18-33 karya Ihsan bin Muhammad al-'Utaibi]
Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras
Allah taala berfirman (yang artinya), Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya. (QS. Al-Maaidah : 13).
Syaikh As-Sadi rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 225)
http://abumushlih.com/mengapa-hati-membatu.html/
http://myquran.org/forum/index.php?topic=71404.0
http://dedi5611.blogdetik.com/index.php/dahsyatnya-istighfar/

Ketahuilah Menangis Itu Termasuk Ibadah
Semua praktek ibadah akan dinilai benar selama berdasarkan petunjukk Al Quran dan sunnah Nabi. Menangis termasuk ibadah bila dilandaskan kepada Al Quran dan Sunnah Nabi yaitu menengis yang terjadi semata-mata- krena takut kepada Allah. Al Quran mempertanyakan keimanan orang yang tidak pernah menangis dikala mendengar ayat-ayat AlQuran. Allah berfirman:
(59) (60) (61) (62)
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan itu?. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkannya? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia.Menurut ayat diatas, orang yang tidak mau menangis dengan ayat Allah dia adalah oranng yang lalai. Karena itu orang yang tidak diragukan ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah senantiasa mudah meneteskan air mata ketika mendengar Allah berfiman. Terutama bila ayat yang dibacanya adalah yang berhubungan dengan teguran seperti ayat diatas ini. karena itu ketika para shahabat pertama kali mendengar ayat ini dibacakan mereka pun menangis.
Dari Abi Hurairah RA dia berkata: ketiaka turun ayat afamin hadzal haditsi menangislah para shahabat (ahli shuffah) hingga mengalirlah air mata mereka membasahi pipi, dan ketika Rasulullah mendengar tangisan mereka, beliaupun menangis bersama mereka, maka kamipun menangis karena (terdorong oleh) tangisannya.
Beliau bersabda: tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak akan masuk surga orang yang terus menerus berbuat dosa. Sekiranya kamu tidak berdosa pasti Allah akan mmendatangkan orang-orang yang berdosa kemudian Dia mengampuni mereka.Memperhatikan hadits ini jelas sekali bahwa menangis karena takut neraka adalah akhlak Rasul dan para shahabat. Dan orang-orang yang tidak mau menangis tidak berarti tidak ada yang ditangisi atau tidak pernah berdosa melainkan meeka termasuk golongan yang terus menerus berbuat dosa. Dan Allah menyediakan ampunan bukan bagi orang yang tidak berdosa, karena setiap manusia pasti berbuat dosa , akan tetapi Dia menyediakan ampunan bagi orang yang suka menangisi dosa.Bila tidak mau menangisi dosa berarti sama dengan memeliharanya. Dan orang yang memelihara dosa tentu akan dijauhkan dari surga. Karena Allah sediakan surga bagi orang yang bertaubat. Allah Swt telah memberi kepada setiap manusia potensi untuk menangis dan tertawa. Keduanya adalah amanat yang mesti dimanfaatkan untuk taqarrub kepadaNya.
Dan kebanyakan manusia lebih banyak tertawa dibanding dengan menangis. Bahkan mereka berusaha untuk membuat-buat ketawa. Dalam realitas kehidupan telah ditemukan bahwa sebagia manusia ada yang mampu membuata orang lain tertawa dan ada pula yang mampu membuat orang lain mnangis. Sekiranya menangis dan tertawa ini kita lakukan untuk kepentiangan hari akhirat, pasti kita akan banyak menangis dan jarang tertawa selama didunia ini.
Dan sekiranya hal tidak dilakukan, maka tertawa didunia tetap hanya sebentar sebab hidup di dunia tidak lama lagi akan berakhir. Dan orang yang tidak mau menangis di dunia akan menangis di akhirat. Karena itu Allah mengingatkan dengan firman-Nya:
(2)
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Ada seorang hamba yang berkata: saya tidak menenagis karena saya bukan orang yang emosional melainkan saya adalah orang yang banyak berfikir.Penyataan ini bila ditinjau dengan kaca mata Islam sangat perlu diperbaiki, karena berlawanan dengan kandungan hadits Rasul yang menegaskan bahwa semakin luas wawasan seseorang dan mendalam ilmunya pasti akan semakin sering menangis dan jarang tertawa. Mari kita perhatikan sabda Rasulullah saw:
:
Dari Abdillah bin Amr, ia berkata: Rasulullah bersabda: sekiranya kamu mengetahui apa yang aku ketahui pasti kamu banyak menangis dan jarang tertawa, sekiranya kamu mengetahui apa yang kuketahui pasta ada diantara kamu yang bersujud hingga pataah tulang rusuknya, dan pasti berteriak mengais hingga habis suaranya. Menangislah kamu kepada Allah, apabila kamu tidak bisa menangis, maka usahakan sampai mamapu.
Menurut hadits ini orang yang berilmu akan lebih banyak dan lebih mudah untuk menangis, karena dia mengetahui siapa dirinya dan dimana dia berada. Dan sebaliknya bila seseorang banyak tertawa dan jarang menanggis berarti dia kurang mengetahui hakikat dirinya dihadapan Allah, sehingga dia selalu merasa tenang tanpa ada rasa kehawatiran kalau dirinya dekat dengan kemurkaan Allah, seakan-akan dia adalah orang yang sudah dijamin akan mendapat surga dan selamat serta jauh dari bahaya neraka.
Padahal tidak ada seorangpun yang mengetahui masa depan yang akan dihadapinya esok hari apalagi hari-harri sesudah mati. Karena itu, semakin mendalam dan luas ilmu seseorang tentang Islam maka akan semakin sering menangis. Bila kita susah manangisi dosa berarti kita sedang berada dalam kegelapan. Bila kita berada dalam kegelapan, bukan saja dosa kecil yang tidak terlihat akan tetapi dosa besar pun susah diketahui. Ya Allah ampunilah dosa kami dan memasukkanlah kami kedalam golongan yang tercantum dalam firmanMu:
(107) (108) (109
Sesunggyhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebellumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyugkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: Maha suci tuhan kami pasti dipenuhi dan mereka meniarap atas dahinya serta menangis, dan (Al Quran) menambah khusyu mereka.
Menangis yang bernialai ibadah adalah menangis yang melibatkan semua unsur manusia yaitu akal fikiran yang diisi dengan ilmu; qalbu yang diisi dengan keimanan; dan seluruh anggota badan termasuk kepala dengan sujudnya; lisan dengan membaca istighfar, tasbih, tahmid dan ungkapan dzikir lainnya. Dan tidak kalah pentingnya bahwa tetesan air mata yang membanjiri wajah hingga membasahi tempat sujud akan menjadi saksi nanti di akhirat .Ada seseorang yang merasa cukup dengan menangis dalam hati saja dan menganggap bahwa menangis dengan meneteskan air mata tidak lagi diperlukan, dengan alasan bahwa sikap cengeng itu tidaklah baik. Sikap seperti ini tidak keliru bila diterapkan pada situasi sedang menghadapi musuh Allah yang menuntut semua hamba untuk berjiwa besar dan menjaga wibawa kaum muslimin demi terpeliharanya kemuliaan Islam .
Akan tetapi lain halnya ketika kita sedang berhadapan dengan Yang Mulia dan Maha Perkasa. Semua hamba harus menunjukkan kerendahan dirinya dengan penuh kesadaran sebagai hamba yang hina tak berdaya yang menyadari akan banyaknya dosa dan sering lalai akan perintah yang turun dari Dzat Yang Maha Bijaksana, dan pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa kita tidak lama lagi akan disidang didepan Pengadilan Yang Mahatinggi.
Untuk meningkatkan kesadaran ini sangat diperlukan untuk selalu ingat akan kehidupan para nabi dan shalihin. Karena mereka adalah orang pinter dan cerdas dalam memahami kehidupan ummat, dan mereka juga adalah pejuang yang tidak pernah mengenal takut kepada siapapun. Namun demikian, mereka adalah sangat cengeng ketika sedang merintih kepada Yang Mahaadil dan menghadap kepada Yang Mahakuasa. Demikian Allah menjelaskan dalam firman-Nya:
(58)
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Yang Maha Pengasih mereka meniarap sujud dan menangis Ayat diatas menjelaskan sifat-sifat para Nabi dan para pengikutnya dengan kata sujjadan (ahli sujud) dan bukiyyan (ahli menangis).Kata bukiyyan adalah shighah mubalaghah (bentuk kata yang mempunyai makna sangat) dari kata bakiina yang merupakan kata sifat bagi orang-orang yang suka menangis. Hal ini menggambarkan bahwa tangisan tersebut melebihi dari tangisan yang biasa terjadi pada masayarakat umum yang disebabkan urusan dunia. Makna menangis yang dimaksud dalam ayat akan lebih jelas lagi bila kita perhatikan hadits Rasul SAW dibawah ini.Menangis Menurut Sunnah Rasul SAW
:
Rasulullah SAW bersabda: Dua mata yang tidak akan terkena api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga dijalan Allah
:
Rasulullah SAW bersabda: Tiga mata yang tidak akan terbakar api neraka untuk selamanya: mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang berjaga dimalam hari karena membaca kitab Allah, dan mata berjaga-jaga membela agama Allah.http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/ketahuilah-menangis-itu-termasuk-ibadah.htm#.UVDqn5zz7sY
Menangislah Karena Allah
Allah menghendaki kehidupan manusia senantiasa mengalami berbagai perubahan antara senang dan sedih, suka dan duka, sehat dan sakit. Sebagaimana biasa mengalami lapang dan sempit, harap dan takut, tertawa dan menangis. Semua ini adalah aturan Allah yang sangat bermanfaat bagi setiap mukmin demi meningkatkan ketakwaan.
Dan akan menjadi bencana bagi yang tidak beriman, karena dia tidak sadar bahwasemua itu adalah bekal yang sangat bermanfaat bagi peningkatan derajat dalam kehidupan. Karena itu, dalam menyikapi semua kondisi yang dihadapi ini manusia tidak terlepas dari salah satu dianatara dua nilai, yaitu positif dan negatif atau benar dan salah, baik menurut pandangan manusia atau pun pandangan Yang Maha Kuasa.
Seseorang dapat meingkatkan keimanannya dengan menjalin ukhuwwh Islamiyah yang sering dihiasi dengan senyuman dan juga dapat meningkatkan taqarrub kepada
Rabbnya dengan sering mengis karena menyadari akan kelalaian dalam melaksanakan kewjiban dimasa lalu, dan menangis karena takut akan kekeliruan dalam memhami dan salah mengamalkan ajaran Ilahi yang mesti ditatinya demi leselamatan dan kemaslahatn dimasa mendatang.
Manangis adalah akhlaq para nabi dan kebiasaan para shalihin. Namun tentu bukan sekedar menangis, melainkan menangis yang membuktikan penghambaan diri yang muncul dari kesadaran yang sangat mendalam.
Sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah yang selalu memerlukan pertolongan; hamba yang menyadari sering lalai terhadap aturan-Nya; hamba yang sangat bodoh tapi sring menyombongkan diri dengan ilmu yang sangat sedikit; hamba yang tidak memiliki apa-apa tapi berlaga sombonga seakan-akan apa yang ada dalam dirinya adalah miliknya; sungguh semua yang ada pada diri seorang hamba baik berupa jasad kesehatan, harta, jabatan atau lainnya, semua itu adalah amanat yang mesti dipelihara dengan menggunakannya sesuai fungsinya dan mesti dipertanggungjawabakan pada saat yang tidak lama lagi akan tiba.
Para nabi menangis karena melihat ummat yang sedang mendertia kebejadan akhlaq dan penyimpangan aqidah serta kerusakan pemahaman terhadap syariah yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Para ualama sering menangis karena khawatir tidak dapat melanjutkan perjuangan Rasul akibat beratnya tantangan dan kurangnya kemampuan serta meluasnya kemasiatan.
Bila dibacakan kepada mereka ayat Allah yang berisi perintah, mereka menyadari belum dapat melaksanakan perintah sebagaimana mestinya. Sebaliknya bila dibacakan ayat yang mngandung larangan, mereka selalu ingat akan semua perbuatan yang menurut pandangan manusia tidak termasuk pelanggaran, padahal boleh jadi, tanpa disadari, dihadapan Allah sering sekali melakukan pelanggaran.
Bila dibacakan ayat-ayat tentang kenikmatan surga, terbayanglah orang lain sedang menikmatinya, sementara dirinya sedang dalam penderitaan menonton dari kejauhan apa yang dinikmati ahli surga, karena menyadari belum beramal sebagaimana mestinya yang memenuhi kriteria untuk menjadai mauttaqiin shalihin.Bila sudah melaksanakan sebagain perintah-Nya, mereka yakin bahwa tiada yang dapat mengetahui apakah amalnya memenuhi syarat diterma Allah ataukah tidak. Dan bila bertaubat, dari mana diketahui bahwa taubatnya memenuhi syarat untuk diterima dihadapan Allah.Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin mudah baginya mengetahui kesalahan dan kelalian dirinya dan semakin menyadari bahwa dirinya masih jauh untuk mencapai tingkat muttaqin.Karenanya ketakutan kepada Allah akan semakin meningkat, demikian pula harapan akan ampunan semakin bertambah. Wallahu alam.http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/menangislah-karena-allah.htm#.UVDrS5zz7sY
6 Manfaat Menangis
1. Membantu penglihatan
Air mata ternyata membantu penglihatan seseorang, jadi bukan hanya mata itu sendiri. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.
2. Membunuh bakteriTak perlu obat tetes mata, cukup air mata yang berfungsi sebagai antibakteri alami. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan lisozom yang dapat membunuh sekitar 90-95 persen bakteri-bakteri yang tertinggal dari keyboard komputer, pegangan tangga, bersin dan tempat-tempat yang mengandung bakteri, hanya dalam 5 menit.
3. Meningkatkan mood
Seseorang yang menangis bisa menurunkan level depresi dengan menangis, moodseseorang akan terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24 persen protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata.
4. Mengeluarkan racun
Seorang ahli biokimia, William Frey telah melakukan beberapa studi tentang air mata dan menemukan bahwa air mata yang keluar dari hasil menangis karena emosional ternyata mengandung racun. Tapi jangan salah, keluarnya air mata yang beracun itu menandakan bahwa ia membawa racun dari dalam tubuh dan mengeluarkannya lewat air mata.
5. Mengurangi stres
Bagaimana menangis bisa mengurangi stres? Air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat dalam tubuh yaitu endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin. Selain menurunkan level stres, air mata juga membantu melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi.
6. Melegakan perasaanSemua orang rasanya merasa demikian. Meskipun Anda didera berbagai macam masalah dan cobaan, namun setelah menangis biasanya akan muncul perasaan lega. Setelah menangis, sistem limbik, otak dan jantung akan menjadi lancar, dan hal itu membuat seseorang merasa lebih baik dan lega.
Manfaat Menangis 
Menangis adalah ungkapan paling jujur tentang suara batin manusia, yang melambangkan kepasrahan total seorang hamba pada Rabbnya. Itulah sebabnya isak tangis gampang sekali menetes ketika ada kematian seseorang.
Menurut Ibnu Qayyim, ada 10 Jenis Tangis yaitu:
1) Menangis karena kasih sayang dan kelembutan hati.
2) Menangis karena rasa takut.
3) Menangis karena cinta.
4) Menangis karena gembira.
5) Menangis karena menghadapi penderitaan.
6) Menangis karena terlalu sedih.
7) Menangis karena terasa hina dan lemah.
8) Menangis untuk mendapat belas kasihan orang.
9) Menangis karena mengikut-ikut orang menangis.
10) Menangis orang munafik - pura-pura menangis.
1. Meningkatkan mood
Menangis bisa menurunkan tingkat depresi seseorang. Dengan menangis, mood akan terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena luapan perasaan atau emosi mengandung 24% protein albumin yang bermanfaat dalam mengatur kembali sistem metabolisme tubuh. Air mata tipe ini jelas lebih baik dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata.
2. Mengurangi stress
Penelitian menyatakan bahwa air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat dalam tubuh yaitu endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin.
3. Melegakan perasaan
Sepertinya, setiap orang merasakan hal ini setelah menangis. Setelah menangis, berbagai masalah dan cobaan yang mendera, kekesalan dan amarah yang menyesak, serta goresan sakit hati biasanya berkurang dan muncullah perasaan lega.
Perasaan lega yang dialami seseorang setelah menangis muncul karena sistem limbik, otak dan jantung menjadi lancar. Karena itu, keluarkanlah masalah di pikiran dengan menangis, jangan dipendam karena bisa menjadi tangisan yang meledak-ledak. Malu menagis sesak di dada, tertahan menjadi ganjalan perasaan yang sewaktu-waktu bisa memporakporandakan pertahanan jiwa, rasa bahkan raga.
4. Menjadi penghalang agresivitas
Orang yang sedang memuncak tingkat emosinya, meletup amarahnya biasanya akan berlaku dan bersikap lebih agresif bahkan bisa berdampak destruktif. Emosi yang diluapkan dengan menangis mampu menjadi penghalang agresivitas. Seperti yang diungkapkan Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, bahwa dengan air mata, seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah.
 http://duniaerida.blogspot.com/2011/04/m…Seharusnya Kita Selalu Menangis
Sep9
(Oleh: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari)
Pernahkah Anda menangis -dalam keadaan sendirian- karena takut siksa Allh Taala? Ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada Allh Taala akan mendorong seorang hamba untuk selalu istiqmah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api neraka. Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam bersabda:
Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis
karena takut kepada Allh sampai air susu kembali ke dalam teteknya.
Dan debu di jalan Allh tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam.[1]
Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya
seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung,
dia khawatir gunung itu akan menimpanya.
Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya
seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya,
dia mengusirnya dengan tangannya begini, maka lalat itu terbang.
(HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahhkan oleh al-Albni rahimahullh)
Ibnu Abi Jamrah rahimahullh berkata,
Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allh Taala -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allh-pen) dan bermurqabah (mengawasi Allh). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil.
(Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497)
Apalagi jika dia memperhatikan berbagai bencana dan musibah yang telah Allh Taala timpakan kepada orang-orang kafir di dunia ini, baik dahulu maupun sekarang. Hal itu membuatnya tidak merasa aman dari siksa Allh Taala.Allh Taala berfirman yang artinya:Dan begitulah adzab Rabbmu apabila Dia mengadzabpenduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim.Sesungguhnya adzab-Nya sangat pedih lagi keras.Sesungguhnya pada peristiwa itu benar-benar terdapat pelajaranbagi orang-orang yang takut kepada adzab akhirat.Hari Kiamat itu adalah suatu haridimana manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)-Nya,dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.Saat hari itu tiba, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya;maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka,di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih).(Qs Hd/11:102-106)
Ketika dia merenungkan berbagai kejadian yang mengerikan pada hari Kiamat, berbagai kesusahan dan beban yang menanti manusia di akhirat, semua itu pasti akan menggiringnya untuk takut kepada Allh Taala al-Khliq.
Allh Taala berfirman yang artinya:Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu.Sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat ituadalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).(Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu,semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya,dan semua wanita yang hamil gugur kandungan.Kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk,padahal sebenarnya mereka tidak mabuk.Akan tetapi adzab Allh itu sangat keras.(Qs al-Hajj/22:1-2)
Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Di dunia, mereka takut terhadap siksa Rabb mereka, kemudian berusaha menjaga diri dari siksa-Nya dengan takwa, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka, Allh Taala memberikan balasan sesuai dengan jenis amal mereka. Dia memberikan keamanan di hari Kiamat dengan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.
Allh Taala berfirman yang artinya:
Dan sebagian mereka (penghuni surga-pent) menghadap
kepada sebagian yang lain; mereka saling bertanya.
Mereka mengatakan:
Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga,
kami merasa takut (akan diadzab).
Kemudian Allh memberikan karunia kepada kami
dan memelihara kami dari azab neraka.
Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.
(Qs ath-Thr/52:25-28)
ILMU ADALAH SEBAB TANGISAN KARENA ALLH TAALASemakin bertambah ilmu agama seseorang, semakin tambah pula takutnya terhadap keagungan Allh Taala.Allh Taala berfirman yang artinya:Dan demikian (pula) di antara manusia,binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak,ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya).Sesungguhnya yang takut kepada Allh di antara hamba-hamba-Nya,hanyalah Ulama.Sesungguhnya Allh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(Qs Fthir/35:28)Nabi Muhammad Shallallhu Alaihi Wasallam bersabda:
Surga dan neraka ditampakkan kepadaku,
maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini.
Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui,
kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.
Anas bin Mlik radhiyallhuanhu perawi hadits ini- mengatakan,
Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu.
Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan.
(HR. Muslim, no. 2359)
Imam Nawawi rahimahullh berkata,
Makna hadits ini, Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis.(Syarh Muslim, no. 2359)
Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allh Taala dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.
Lihatlah para Sahabat Nabi radhiyallhuanhum, begitu mudahnya mereka tersentuh oleh nasehat! Tidak sebagaimana kebanyakan orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.
(Lihat Bahjatun Nzhirn Syarh Riydhus Shlihin 1/475; no. 41)
Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena takut kepada Allh Taala merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allh Taala, tentulah kita akan menangis karena-Nya atau berusaha menangis sebisanya. Nabi Muhammad Shallallhu Alaihi Wasallam menjelaskan keutamaan tetesan air mata ini dengan sabda Beliau:
Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allh
daripada dua tetesan dan dua bekas.
Tetesan yang berupa air mata karena takut kepada Allh
dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allh.
Adapun dua bekas, yaitu bekas di jalan Allh
dan bekas di dalam (melaksanakan) suatu kewajiban
dari kewajiban-kewajiban-Nya.
Namun yang perlu kita perhatikan juga bahwa menangis tersebut adalah benar-benar karena Allh Taala, bukan karena manusia, seperti dilakukan di hadapan jamaah atau bahkan dishooting TV dan disiarkan secara nasional. Oleh karena itu Nabi Shallallhu Alaihi Wasallam menjanjikan kebaikan besar bagi seseorang yang menangis dalam keadaan sendirian. Beliau Shallallhu Alaihi Wasallam bersabda:
Tujuh (orang) yang akan diberi naungan oleh Allhpada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.(di antaranya): Seorang laki-laki yang menyebut Allhdi tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata.(HR. al-Bukhri, no. 660; Muslim, no. 1031)
Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba akan mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat isi hati manusia akan dibongkar, segala rahasia akan ditampakkan di hadapan Allh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka kemana orang akan berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allh Taala pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu adalah menangis karena takut kepada Allh Taala.
Syaikh Muhammad bin Shlih al-Utsaimn rahimahullh berkata,Wahai saudaraku, jika engkau menyebut Allh Taala, sebutlah Rabb-mu dengan hati yang kosong dari memikirkan yang lain. Jangan pikirkan sesuatu pun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau tidak akan bisa menangis karena takut kepada Allh Taala atau karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin menangis sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau akan menangis karena rindu kepada Allh Taala dan karena takut kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya?.
Oleh karena itu, Raslullh Shallallhu Alaihi Wasallam bersabda:
Seorang laki-laki yang menyebut Allh di tempat yang sepi,
yaitu hatinya kosong dari selain Allh Taala,
badannya juga kosong (dari orang lain),
dan tidak ada seorangpun di dekatnya
yang menyebabkan tangisannya menjadi riy dan sumah.
Namun, dia melakukan dengan ikhlas dan konsentrasi.
(Syarh Riydhus Shlihn 2/342, no. 449)
Setelah kita mengetahui hal ini, maka alangkah pantasnya kita mulai menangis karena takut kepada Allh Taala.Wallhul Mustan.http://ilmuislam2011.wordpress.com/2012/09/09/seharusnya-kita-selalu-menangis-2/